Cerpen Teen “Salahkah aku?”

Anime-girl-msyugioh123-32896940-1024-768

Tittle                     : Salahkah Aku?

Author                 : Maria Lorencia a.k.a [Lee Rin Woo]

Type                     : One shoot

Penokohan        : Original Character, imajinasi

Genre                   : historical romance

Rating                  : Teen 13+

Warning: Banyak typo(s). Maaf ya kalau nggak nge-feel. This flash fiction. HAPPY READ 🙂

Ketika kisah cinta mulai ditulis, bayangan tangis dan tawa sudah tidak berarti. Menelusuri palung hati terdalam hingga muncul satu nama dan deretan roll film itu di putar lagi.

Tepat di ujung sana, gadis kecil pucat dengan rambut hitam legam terurai di sofa. Tangannya sibuk memasukkan ranting kayu ke perapian. Senyum manisnya mengudara saat menyadari sesosok bayangan datang dengan ekspresi tidak bersahabat.

“Sudah ku bilang tunggu hujannya reda. Kenapa kau nekat pulang sampai basah kuyub begini?” Bayangan itu kembali pergi dengan mulut komat-komit, entah berkata apa. Dan dengan terburu-buru, ia datang member handuk, air penghangat kaki dan segelas susu.

“Sampai kapan, kau mau terus begini gadis kecil? Apa kau mau melihat aku mati terkena serangan jantung dengan tingkah kekanakanmu ini? Jangan membuat cinta ku menyusut karena ulah mu.” Gadis itu kini tertawa memandang kakak lelakinya yang sedang cemberut.

***

Lima tahun sama dengan ribuan tahun di alam penantian. Detik jam bergerak perlahan, menambah kesunyian hati yang makin melelahkan tiap waktu. Pintu itu masih bergeming, tanpa tangan hangat yang hendak menyentuhnya. Cahaya matahari mulai menghilang dari celah jendela yang tertutup kain biru toska.

TOK TOK TOK

Jantungku kembali berdetak tak tentu arah. Badan tegap dengan jaket kulit yang sama itu berdiri dihadapanku.

“Kenapa kakak masih mengenakan jaket ini?” kataku sembari membantunya melepaskan jaket kulit penuh kenangan itu. Sosoknya berjalan perlahan dan duduk di perapian yang sudah kosong tanpa bara api.

“Kenapa? Aku suka karena itu pemberianmu”

Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku dengan roll film yang terus terputar dan dia dengan resleting  jaketnya yang tersendat. Natan mengeluarkan cincin bertahtakan sebait nama yang kini  telah bersemayam manis di jari tengahku. Dia memberikannya untukku.

“Aku ingin melamar seseorang.” Suaraku tersendat di tenggorokan ketika ucapan itu terlepas dari bibirnya. ‘Cinta’ itu kata yang terukir di cincin sana. Aku masih tidak mengerti. Cinta itu sebuah ungkapan atau namaku?

“Si.. si.. siapa yang kakak cintai?” Susah payah pertanyaan itu kulafalkan. Apa kak Natan mencintaiku? Parasnya penuh dengan beban hidup, sepertinya itu sangat sulit diungkapkan.

“Kakak cinta sama dia. Tapi…”

“Tapi apa?” Detak jantungku lagi-lagi dipacu dengan kecepatan tinggi. Air mataku tiba-tiba ingin menetes. Kepalan tangannya membuka perlahan, dan disana ada cincin yang sama.

“Ini milik Angel. Dia pergi saat kakak mau ngelamar dia.”

Sepasang bola mata yang selalu menemaniku sudah tak sanggup menanggung berat. Kepalaku tertunduk menangisi bebannya. Wajah murung itu tidak bisa membuatku tertawa seperti dulu. Helaan nafasnya tak mampu mengobatiku lagi.

“Cinta.. kakak ikhlas kok, ngasih cincin ini ke kamu. Bukan karena Angel atau siapapun.”

Andai kakak tahu, semuanya bukan masalah cincin. Tapi hatiku yang tak terbalaskan olehmu. Apa aku salah? Kalau cintaku tidak pernah menyusut untuk kakak kandungku sendiri. Sejauh ini orang selalu bilang, ‘Cinta tak perlu memiliki’. Jikalau gadis ini boleh meminta. Ijinkan kak Natan memiliki perinya, Angel. Aku bahagia asalkan cintaku berbahagia.

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s